PEKANBARU – Menapaki awal tahun 2026 dengan semangat optimisme, PT Riau Petroleum Mahato (RPM) menggelar pertemuan strategis bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Senin (12/01).
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat di Pekanbaru ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan langkah dalam mengoptimalkan potensi migas di Wilayah Kerja (WK), khususnya Blok Mahato.
Banyak hal yang didiskusikan dalam pertemuan sekitar tiga jam ini. Misalnya tentang tren perkembangan minyak dunia yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk juga hsl-hal terkait fokus kinerja BUMD dan memaksimalkan penerimaan PI 5% PT Riau Petroleum Mahato selaku anak perusahaan BUMD PT Riau Petroleum (Perseroda). Sebagaimana diketahui, wilayah ini dioperasikan oleh KKKS Texcal Energy Mahato Inc yang berlokasi di Kabupaten Kampar.
Kepala SKK Migas Sumbagut, C.W. Wicaksono, pada kesempatan itu menegaskan tentang perlunya strategi kolaboratif untuk meningkatkan produksi, termasuk melalui revitalisasi sumur tua dan penambahan pengeboran sumur baru di WK Mahato.
"Saat ini operator baru mampu memproduksi sekitar 8.000 barel per bulan. Kita harus mendorong proses lifting di sumur-sumur agar lebih produktif. Tujuannya agar produksi dalam negeri mampu memenuhi konsumsi masyarakat Indonesia sehingga kita tidak perlu lagi bergantung pada impor minyak mentah," tegas Wicaksono.
Dalam Mendorong Kemandirian Energi Nasional Fokus pada kali ini adalah strategi peningkatan lifting minyak untuk mendukung target besar pemerintah Indonesia mencapai produksi 1 juta barel per hari pada tahun 2030. Untuk itu, Kepala SKK Migas Sumbagut, berulangkali menekankan bahwa kolaborasi aktif dengan BUMD sangat krusial untuk mengurangi angka impor minyak mentah.
"Kita harus bergerak lebih progresif melalui revitalisasi sumur-sumur tua dan percepatan pengeboran sumur baru di Blok Mahato. Dengan mengoptimalkan produksi dalam negeri, kita sedang melangkah menuju kemandirian energi bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Wicaksono.

Optimisme ini diperkuat dengan catatan positif tahun 2025, di mana produksi migas nasional berhasil melampaui target APBN. Untuk tahun 2026, target lifting ditingkatkan menjadi 610.000 barel per hari, sebuah tantangan sekaligus peluang besar bagi industri perminyakan.
Koordinator Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, M Rohadi, yang mendampingi Kepala SKK Migas Sumbagut menambahkan, demi kelancaran operasi maka komunikasi yang intensif antara SKK Migas dan anak perusahaan BUMD seperti PT Riau Petroleum Mahato harus selalu terjaga.
"Hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh operasional yang dijalankan oleh operator KKKS Texcal Energy Mahato Inc dapat didukung supaya berjalan lancar tanpa hambatan sosial maupun perizinan," ungkapnya.
Direktur PT Riau Petroleum Mahato, Abu Bakar Siddik, menegaskan bahwa kesuksesan industri migas tidak hanya diukur dari angka produksi, tetapi juga dari kemajuan masyarakat lokal.
"Sinergi ini adalah kunci. Kami ingin memastikan kehadiran operasional di Blok Mahato, khususnya di wilayah Tapung, Tapung Hulu, dan Tapung Hilir, membawa dampak nyata melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR). Kesejahteraan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat sekitar adalah prioritas kami," tutur Abu Bakar Siddik.
Komunikasi inten yang dikemas santai ini disepakati akan secara rutin sebagai wadah untuk tukar-menukar informasi terkini dan disertai harapan agar hubungan antara SKK Migas, KKKS Texcal Energy Mahato Inc , dan PT Riau Petroleum Mahato semakin solid bagi kesejahteraan masyarakat.